Oh Waktuku!

Pagi yang cukup menggembirakan. Ada energi menyegarkan menyelinap melapangkan lipatan-lipatan yang selama ini membuat hari-hari tidak terarah.

Ada harapan dan akan selalu ada, selama jatah hidup dimandatkan.

Beberapa aktivitas senantiasa Allah mudahkan untuk dilalui, namun selalu saja mensyukurinya menjadi nomer sekian yang dianaktirikan. Mungkin karena itulah aku masih sering  lupa menikmati jenak yang aku lalui. Jenak itu masih berlalu dengan sangat sporadis, tanpa perencanaan yang jelas, moment-moment perubahan itu menjadi sangat hambar bersamaan dengan tidak terikatnya makna yang menyertainya.

Beberapa kali aku menyerah dan membiarkan beberapa kesempatan untuk berubah. Suatu kali teman sekamarku terpaksa menyembunyikan beberapa alat yang membuatku melakukan rentetan kelalain. Dia selalu menunjukkan catatan kronologis sebab-akibat menurunnya produktivitasku (mang kapan pernah produktif? hehe) dalam banyak hal.

Pakain yang dibiarkan berhari-hari mengundang sekian aroma tidak sedap dikamar (jorok kan…), tumpukan buku-buku yang sama sekali tidak mengindahkan keindahan dan kerapian, kabel-kabel yang merusak kesejukan ruang belajarku. Itulah diantara akibat dari ketidakteraturanku dalam mengatur waktu.

Suatu hari di asrama mendatangkan seorang trainer sebut saja namanya Ustadzah Asiyah. Beliau menanyakan satu persatu bagaimana kami memperlakukan waktu. Melalui interogasinya  didapatkan aku dan beberapa teman yang memiliki kesamaan,   beliau mengibaratkan cara kami layaknya orang yang memasak beberapa macam makanan yang memiliki rasa yang saling berbeda satu dengan lainnya, kemudian semua masakan tersebut dicampur menjadi satu sehingga melahirkan rasa yang nano-nano (enak rasanya, iya permen.. kalau yang ini mah menjadi tidak terdeteksi rasa manis, asin, asam, pedas, pahit dan lain sebagainya).

Bagaimana jalan keluar dari kebiasaan yang nyaris menjadi budaya (saking menikmati cara yang salah hingga lupa untuk jera) itu?  Ustadzah Asiyahpun memberi kami beberapa pertanyaan yang harus selalu kami jawab satu hari sebelum membuka hari pada pekan berikutnya, pertanyaan tersebut:
1. Aktivitas apa saja yang  segera dan penting akan kamu lakukan dalam satu pekan ini?
2. Aktivitas apa saja yang penting tapi tidak segera, akan kamu lakukan dalam pekan ini?
3. Aktivitas apa saja yang segera dan tidak penting yang akan kamu lakukan dalam pekan ini?
4. Aktivitas apa saja yang tidak penting dan tidak butuh waktu segera yang akan kamu lakukan dalam pekan ini?

Empat pertanyaan tersebut sudah aku coba jawab, hasilnya luar biasa, aku mulai bisa menikmati jenak yang berlalu dengan kesadaran (walau belum benar-benar sadar sih, tapi minimal aku bisa mendeteksi sendiri apa yang kurang dalam jenak-jenak yang berlalu begitu saja, sehingga aku bisa menyusun kembali sesuai tingkatan prioritas yang ada).

Jenak-jenak berikutnya adalah tergantung pada ketrampilanku yang tidak lepas dari pertolongan, bimbingan dan petunjukNya untuk melaluinya dengan lebih bermakna, Insha Allah….

Pameran Biologi

Setiap hari rabu adalah hari yang terasa cukup lamban berlalu, mungkin karena akhir pekan. Namun beda dengan hari rabu kemaren yang cukup indah, karena mungkin sepanjang pagi hingga menjelang siang ustadzah Badriyan mengajak kami mengunjungi pameran biologi.

Alhamdulillah untuk yang kedua kalinya saya bisa mengunjungi pameran biologi yang diadakan oleh teman-teman mahasiswa Biologi UQU, setelah 1,5 tahun yang lalu saya sempat melihat pamerannya dengan tema “Potret Lingkungan Saudi Arabia di Musim Panas”. Tahun ini dengan tema I’jaz Ilmi tema yang membuatku keranjingan mengumpulkan sekian buku untuk menekuninya (Insya Allah), suguhan yang membuat saya dan teman-teman yang lain terpana dan terkagum-kagum dengan kerja keras yang diupayakan oleh panitia. Sebuah kerja detail yang sarat dengan makna, dengan cantik mereka mengemas sebuah makna wahyu kedalam makna kehidupan.

Diantaranya pemaparan manfaat waktu sholat terhadap manajemen kehidupan yang ada dalam tubuh manusia, subhallah… Pemaknaan beberapa term dalam al-Qur an dan hubungannya dengan peran otak manusia… diharamkannya pemakaian emas dan perak bagi laki-laki ditinjau dari kesehatan… dan banyak lagi tidak cukup rasanya ilmu saya untuk memaparkan dan memvisualisasi lebih jauh dari pemandangan yang saya lihat kemaren dari area pameran yang menakjubkan itu.

Semoga  ada kesempatan saya coba posting beberapa leflet yang saya pungut dari pameran itu, insya Allah.

Jalan Cahaya

Ruang ini saya beri nama “Jalan Cahaya” sebagai penyemangat saya untuk selalu menikmati penelisikan labirin cahaya.  Sebuah jalan berliku yang belum saya ketahui akhir dan jalan keluarnya.

Jalan yang sepenuhnya saya juga masih bingung mendefinisikannya, karena jalan ini ternyata tidak ringan dan tidak mudah, karena saya dihadapkan pada dinding-dinding yang menghalangi saya untuk menikmati jalan ini… Dinding-dinding itu adalah malas yang senantiasa mengusik keteguhan diri untuk meneruskan perjalanan cahayanya, adalah sugesti dari kata ‘nanti, ntar dkk’ yang senantiasa memberi kamuflase keyakinan diri bahwa satu detik di depannya adalah jatah baginya, adalah keluhan yang senantiasa menjadikan energi yang tersedia tidak menggerakkan perubahan pada keberartian…

Ruang ini disamping sebagai penyemangat bagi geliat diri saya menjadi diri saya apa adanya, juga sebagai ruang untuk mensekresi nutrisi yang saya dapatkan dari proses penelisikan saya dari labirin cahaya dan dari dunia para perindu cahaya. Hasil sekresi yang berlangsung diharapkan  dapat merobohkan satu persatu dinding-dinding penghalang diri dalam menikmati jalan dan dunia cahaya.