Pagi yang cukup menggembirakan. Ada energi menyegarkan menyelinap melapangkan lipatan-lipatan yang selama ini membuat hari-hari tidak terarah.
Ada harapan dan akan selalu ada, selama jatah hidup dimandatkan.
Beberapa aktivitas senantiasa Allah mudahkan untuk dilalui, namun selalu saja mensyukurinya menjadi nomer sekian yang dianaktirikan. Mungkin karena itulah aku masih sering lupa menikmati jenak yang aku lalui. Jenak itu masih berlalu dengan sangat sporadis, tanpa perencanaan yang jelas, moment-moment perubahan itu menjadi sangat hambar bersamaan dengan tidak terikatnya makna yang menyertainya.
Beberapa kali aku menyerah dan membiarkan beberapa kesempatan untuk berubah. Suatu kali teman sekamarku terpaksa menyembunyikan beberapa alat yang membuatku melakukan rentetan kelalain. Dia selalu menunjukkan catatan kronologis sebab-akibat menurunnya produktivitasku (mang kapan pernah produktif? hehe) dalam banyak hal.
Pakain yang dibiarkan berhari-hari mengundang sekian aroma tidak sedap dikamar (jorok kan…), tumpukan buku-buku yang sama sekali tidak mengindahkan keindahan dan kerapian, kabel-kabel yang merusak kesejukan ruang belajarku. Itulah diantara akibat dari ketidakteraturanku dalam mengatur waktu.
Suatu hari di asrama mendatangkan seorang trainer sebut saja namanya Ustadzah Asiyah. Beliau menanyakan satu persatu bagaimana kami memperlakukan waktu. Melalui interogasinya didapatkan aku dan beberapa teman yang memiliki kesamaan, beliau mengibaratkan cara kami layaknya orang yang memasak beberapa macam makanan yang memiliki rasa yang saling berbeda satu dengan lainnya, kemudian semua masakan tersebut dicampur menjadi satu sehingga melahirkan rasa yang nano-nano (enak rasanya, iya permen.. kalau yang ini mah menjadi tidak terdeteksi rasa manis, asin, asam, pedas, pahit dan lain sebagainya).
Bagaimana jalan keluar dari kebiasaan yang nyaris menjadi budaya (saking menikmati cara yang salah hingga lupa untuk jera) itu? Ustadzah Asiyahpun memberi kami beberapa pertanyaan yang harus selalu kami jawab satu hari sebelum membuka hari pada pekan berikutnya, pertanyaan tersebut:
1. Aktivitas apa saja yang segera dan penting akan kamu lakukan dalam satu pekan ini?
2. Aktivitas apa saja yang penting tapi tidak segera, akan kamu lakukan dalam pekan ini?
3. Aktivitas apa saja yang segera dan tidak penting yang akan kamu lakukan dalam pekan ini?
4. Aktivitas apa saja yang tidak penting dan tidak butuh waktu segera yang akan kamu lakukan dalam pekan ini?
Empat pertanyaan tersebut sudah aku coba jawab, hasilnya luar biasa, aku mulai bisa menikmati jenak yang berlalu dengan kesadaran (walau belum benar-benar sadar sih, tapi minimal aku bisa mendeteksi sendiri apa yang kurang dalam jenak-jenak yang berlalu begitu saja, sehingga aku bisa menyusun kembali sesuai tingkatan prioritas yang ada).
Jenak-jenak berikutnya adalah tergantung pada ketrampilanku yang tidak lepas dari pertolongan, bimbingan dan petunjukNya untuk melaluinya dengan lebih bermakna, Insha Allah….
Filed under: Uncategorized | Leave a Comment »